Kamis, 06 Maret 2014

pengadalian Hama


Pengendalian Hama Penggerek Buah Kakao (PBK)
http://cybex.deptan.go.id/files/KAKAO2.jpg
Sumber Gambar: http://www.dumen.net
Hama penggerek buah kako (BPK) sering disebut hama mot (Cacao moth) merupakan hama yang berbahaya dan merugikan pada budidaya kakao. Saat ini hama BPK menyerang sebagian besar tanaman kakao di Lampung, yang mengakibatkan petani kakao gagal panen. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah untuk menanggulanginya antara lain: karantina, sanitasi kebun, pemangkasan dan lain-lain.
 
CIRI HAMA
Serangga hama PBK termasuk golongan ngengat (moth), yang memiliki ukuran paling kecil diantara anggota ordo Lepidoptera. Serangga betina biasa melepaskan telur pada permukaan buah kakao, dan buah yang paling disukai adalah buah yang memiliki alur paling banyak permukaannya serta ukuran panjang 8 cm. Telur berbentuk oval dengan panjang 0,45-50 mm dan lebar 0,25-0,30 mm, pipih dan berwarna orange pada saat baru diletakkan. Lama stadium telur 2-7 hari. Akibat serangan hama PBK dapat menurunkan produksi 80-90%.
 
GEJALA SERANGAN
Buah kakao yang terserang umumnya menunjukkan gejala masak lebih awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning dan jika digoyang tidak berbunyi seperti halnya buah masak normal. Jika dibelah tampak biji-biji kakao saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang, serta ukuran biji kecil tidak bernas.
 
PENGENDALIAN
1. Karantina dan sanitasi kebun
Tindakan karanntina bertujuan untuk mencegah masuknya hama PBK dari daerah terserang ke daerah yang bebas PBK baik secara internasional antar Negara maupun domestik antar pulau atau antar provinsi. Monitoring hama di tempat pengumpulan hasil (TPH) bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya serangan baru. Sanitasi kebun dilakukan dengan cara menguburkan kulit, plasenta dan buah busuk.
 
2. Pemangkasan Bentuk
Pemangkasan bentuk bertujuan untuk membatasi tinggi tajuk tanaman maksimal 5 m yang berguna untuk mempermudah pengendalian dan panen.
 
3. Cara Panen
Buah kakao memerlukan waktu sekitar 20,5 minggu mulai dari pembuahan sampai masak sempurna. Sementara hama PBK meletakkan telur kurang lebih 6-8 minggu sebelum buah masak sempurna. Kondisi ini menunjukkan bila panen dilakukan pada masak awal mengakibatkan sebagian besar larva ikut terpanen sehingga dapat menurunkan populasi hama. Untuk menurunkan populasi hama panen sebaiknya dilakukan pada masak awal yang dikombinasikan dengan frekuensi panen sesering mungkin (7 hari sekali), langkah lain yang dapat dilakukan untuk membunuh stadia hama yang terbawa saat panen secepat mungkin lakukan tindakan berikut: (a) buah dipecah dan kulit buah dibenam, dibakar atau disemprot dengan insektisida kontak, (b) kulit buah diletakkan dalam karung plastic kemudian diikat rapat dan diamkan minimal 9 hari.

4. Rampasan Buah
Rampasan berfungsi untuk memutus daur hidup hama dengan cara meniadakan makanan yang sesuai bagi serangga hama, yaitu dengan merampas semua buah yang berada dipohon selama jangka waktu tertentu selama 2 bulan. Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, rampasan harus dilakukan secara serentak dan tidak ada buah yang tersisa. Sebaiknya rampasan buah dilakukan saat panen rendah.
 
5. Penyelubungan Buah (Kondomisasi)
Penyelubungan buah ata kondomisasi bertujuan untuk menghambat ngengat betina meletakkan telur. Cara pengendalian dengan menggunakan kantong plastik untuk menyelubingi buah yang panjangnya 7-10 cm. Sistem penyelubungan buah muda ini sangat efektif (95-100%) untuk pengendalian hama penggerek buah kakao, hama Helopeltis sp, serangan penyakit Phytoptora palmivora, dan serangan hama tikus.
 
6. Menggunakan Semut Hitam
Semut merupakan salah satu predator hama, dan untuk meningkatkan populasi semut hitam perlu membuat sarang yang terbuat dari lipatan daun kelapa atau kakao. Semut-semut tersebut menyerang larva pada buah. Aktivitas semut terjadi baik siang, maupun malam kecuali pada musim hujan.
 
7. Cara Kimiawi
Penyemprotan merupakan tindakan terakhir. Adapun insektisida yang digunakan terutama dari golongan sintetik piretroid antara lain: Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Betasiflutrin (Buldok 25 EC), Esvenvalerat (Sumialpha 25 EC), dengan konsentrasi formulasi berturut-turut 0,6% , 0,06%, 0,20%, dan 0,20%. Alat semprot gunakan knapsack sprayer, volume semprot 250 l/ha, dan frekunsi 10 hari sekali, sasaran utama buah dan cabang horizontal.
Hama Penggerak Jagung
http://cybex.deptan.go.id/files/serangga.jpg
Penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis) merupakan hama penting tanaman jagung di Filipina, Cina, Tailand, Kamboja India, Malaysia, Vietnam, Korea, Jepang, dan Papua Nugini. Kehilangan hasil dapat mencapai 80% apabila tidak dikendalikan. Pengendalian penggerek jagung selama ini banyak menggunakan pestisida karena praktis. Penggunaan bahan kimia menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan termasuk musuh alami dari serangga yang bersangkutan dan harganya relatif mahal. Penggunaan pestisida akan meracuni kelangsungan ekosistem dan kelangsungan kehidupan manusia. Karena itu, muncul konsep pengelolaan hama terpadu (PHT), yang salah satu komponen pentingnya adalah pemanfaatan musuh alami, termasuk parasitoid telur Trichrogramma spp.
Salah satu pengendalian yang potensial adalah parasitoid Trichrogramma evanescens Westwood. Di Indonesia, T. evanescens umumnya diperbanyak pada telur Corcyra cephalonica. Untuk efisiensi penggunaan telur C. Cephalonica dan memperoleh perkembangan populasi T. evanescens yang maksimal dalam pembiakan masal, perbandingan antara sumber inokulum dan inang pengganti adalah 1 parasit 7 inang (telur C. Cephalonica). Tingkat parasitasi T. evanescens pada telur O. furcanalis dapat mencapai 93%, dan setiap T. evanescens betina mampu memparasit
telur O. furcanalis hingga 54 butir dengan rata-rata 35 butir. T. evanescens menyukai memparasit atau meletakkan telurnya pada telur inang yang baru diletakkan.
Makanan tambahan berupa larutan gula 10% yang diberikan pada T. evanescens dewasa dan suhu pembiakan yang rendah dapat meningkatkan daya parasitasi, keperidian, dan memperpanjang masa hidup serangga dewasa. Inang utama T. evanescens adalah telur O. furcanalis, tetap juga dapat memparasit telur hama penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera). Tingkat parasitasi T. evanescens pada H. armigera umur 1 hari dapat mencapai 92%.
Perbanyakan Parasitoid Trichrogramma
evanescens
Trichrogramma spp. biasanya diperbanyak secara masal dengan telur inang pengganti, di antaranya C. Cephalonica atau dikenal sebagai ulat beras. Serangga ini mudah diperbanyak dengan bahan-bahan yang tersedia.
Suhu tempat pembiakan parasitoid sangat menentukan tingkat parasitasi pada inang. Tingkat parasitasi parasitoid yang dibiakkan pada suhu rendah (24 o C) cukup tinggi, baik yang diberi maupun yang tidak diberi, masing-masing 51 dan 47 butir inang. Parasitoid telur T. evanescens yang dibiakkan pada suhu rendah (24 oC) lebih efektif memparasit inang dibandingkan pada suhu tinggi (32 oC). Suhu pembiakan mempengaruhi beberapa sifat Trichrogramma spp termasuk keperidian, lama hidup, dan ukuran. Trichrogramma spp adalah serangga yang poikitelotherm, kehidupannya sangat bergantung pada suhu dan lingkungan setempat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar